Rabu, 21 Desember 2011

Petang


Petang yang suram
Terdengung suara teriakan
Petang yang suram
Terbayang bayang kelam
Tersenyumlah petang...
Biarkan wajahmu memerah mega
Dengarkanlah teriakan nuraninya
Gandeng mendung kusutmu
Bisikkan padanya
Aku mencintainya ....


09 Maret 2011


Masih Adakah?


Masih Adakah?

Diriku kini…
Terdiam
Dalam reruntuhan
Hancurnya rumah harapan
Mengais puing- puing
Harapan yang tersisa

Masih adakah?
Masih adakah ia
Mengintip dibalik puing
Kehancuran…
Atau hilang bersamanya….?
Akan kubangun …
Dan biarkan saja kudirikan
Istana harapanku yang hancur...
Walau sendiri…


3 Desember 2010

Siapa?


Siapa

Kau ini siapa
Dia itu siapa
Apakah engkau sebagian dari siapa
Dan apa dalam dirinya?
Sehingga beraninya kau
Mencoba masuk
Ke dalam celah kisi hidupnya
Kau tak tahu
Apa yang ada dibalik rupanya
Apalagi dirimu sendiri…

18 Ramadhan 1431 H

Kalimat Laknat


Mereka adalah para inspirator saya, puisi ini keluar melalui beliau-beliau ini, terima kasih Ayah..








Kalimat Laknat

Tepat waktu itu adalah pilihanku
Menunda, tidur, malas, tipis keyakinan …
Berfikir untuk dirinya sendiri …
Adalah kalimat yang menakutkan
Bagi Rasulullah dan umatnya
Apalagi aku …..
Yang tak pernah tahu susah, payah dan seterusnya
Segudang keluhan, sengsara
Na’udzubillah min dzalik…
Manusia apa aku ini…. 
Susah payah, derita nestapa itu ajaran siapa?
Tak ada!
Isinya hidup ini nikmat dan nikmat
Susah, sengsara dan apapun judulnya itu
Kalimat laknat….
Apa yang kucari, apa yang kudapati…
Kurasakan, kunikmati dan kujalani


29 Jumadal Ula 1430 H

Mungkin



Malam itu mungkin…
Mungkin yang terakhir...
Kau perhatikanku dan ku perhatikanmu
Aku merasa bukan siapa-siapa
Di hatimu…
Dan banyak siapa-siapa
Di hatimu…
Cukuplah aku mengenalmu
Mengenalmu dan mengenalmu saja
Sehingga aku tahu siapa aku
Di hatimu…


15 Ramadhan 1431 H

Sedikit Cinta (Trepoe Puisi)


Khu khu khu.... sesuatu yg tak terlihat muncul lewat tulisan ternyata, hanya tiga judul aja,.










Rasa Tanpa Merasa
Sesuatu yang membuatku bingung
Yang sulit untuk direnung
Apakah hidup ini untuk menghitung
Menghitung waktu
Dan sesuatu yang tak berguna
Berpura-pura tersenyum
Sementara akalnya busuk
Berbicaralah sampai habis nafasmu
Dan didengar tanpa mendengarkan


 November 2009









AKU??
Apa aku ini??
Dilihat tak indah
Disentuh?? Dicium??
Dirasa pun hambar

Aku tak punya apa-apa
Kecuali hati nuraniku sendiri
Yang selalu memberi kekuatan
Untuk mengetahui siapa aku
Siapa aku dan siapa aku
Apa peranku di alam fana ini??
Apa aku jadi setan, malaikat, atau manusia
Atau yang lain??
Atau tak ada peran dalam diriku ini??
Bodohnya…..
Biar saja aku mati sebelum mati…

 Ramadhan 1431 H

Tak seperti biasa

Kumandang adzan
Menjadi saksi
Dalam lirih tawa
Melawan sedih gelisahku
Tak seperti biasa
Perkataanmu yang damai
Menggumpal dalam mendung resahku
Senyumanmu…
Yang teduhkan amarahku
Seakan-akan menguak terikku
Setiamu ….
Harapanku juga cemasku
Benarkah kau sudah bosan
Dengan rumahku
Yang tak sanggup lagi
Menampung hartamu, indahmu…
Dan mungkin juga
Cintamu….
Desember 2010

Baris Puisi (Galau)


Lebih Berarti

Apakah lebih berarti
Lebih berarti apakah
Berarti apakah lebih
Lebih apakah berarti
Berarti lebih apakah
Apakah apakah apakah
Berarti berarti berarti
Lebih lebih lebih
Apakah lebih berarti ?


09 Maret 2011


Tarian waktu

Tiada hentinya
Jemari menari-nari
Mencari huruf-huruf semu
Bagaimana menndapatkanya
Kemana merangkainya
Kebodohan berfikir
Dan tetap berfikir
Mata kedua melirik jam dinding
Tak pernah putus asa
Mencari angka tigabelasnya
Akupun larut dalam semangatnya
Jemari larut dalam lelah
Tapi otak terus berfikir
Kuhisab dalam-dalam
Kenikmatan sebatang rokok
Memandang langit malam
Oh..... indahnya malam
Betapa konyolnya diriku..........

Maret 2011


Kaffah

Di ujung jari
Lekuk tekuk lengan
Keriput bibir atas terkering angin
Menyebut Sang Kekasih
Betapa hati MenginginkanMu
Tapi tangan menolak
Senantiasa Lidah memohon ampunanMu
Namun bibir menutup rapat-rapat
Kelopak mata berharap melihatMu
Begitupun panjang rambut terurai sombong menghalangi
Sepertinya muka tak pernah mau berpaling dariMu
Namun langkah kaki selalu berpihak pada tangan
Dan tangan terlalu menurut pada kepala berotak  tak berakal itu..


Semarang, 2011




Sejauh Kebenaran

Berjalan
Sejauh yang kulihat
Sejauh yang kuanggap itu benar
Satu langkah
Untuk menuju yang kupandang
Akupun mulai curiga
Kepada diriku
Untuk apakah aku berjalan
Apakah jalanku ini benar? 


Semarang, 2011





Rapuh

Senyuman yang selalu mekar miliknya mulai mengkerut kembali mengikis kepalsuan
Matanya tajam semakin dingin
Dengan kebekuan air mata darahnya yang menyimpan kegelisahan dalam gua-gua sunyi
Debu-debu terbaring di permukaan wajahnya
Senyap mulai merayap di sudut-sudut mata, hidung, telinga, bibir, sampai kerat-kerat lehernya
Dia tak bisa lagi melihat birunya langit masa depanya
Sebab matanya tertutup debu hitam masa lalunya
Ketika waktu memaksa dirinya melawan arus
Sampai menghancurkan kerasnya batu-batu kepenatan
Tidak pernah ada kalimat panjang yang terlontar dari mulutnya
Teriakan-teriakan itu hanya untuk menggali gumpalan-gumpalan semangat dalam dirinya
Dia kehilangan dunia yang indah miliknya
Ketika gumpalan semangat itu tergali tetapi banyak orang lain yang menyadarkan
Menguburnya lagi dan terus mengubur
Tidak ada apa-apa yang penting baginya kecuali menunggu lama dan diam
Terbang melalui hari demi hari diatas kebusukan angin tua yang rapuh

Kediri, 2011