Rabu, 21 Desember 2011

Baris Puisi (Galau)


Lebih Berarti

Apakah lebih berarti
Lebih berarti apakah
Berarti apakah lebih
Lebih apakah berarti
Berarti lebih apakah
Apakah apakah apakah
Berarti berarti berarti
Lebih lebih lebih
Apakah lebih berarti ?


09 Maret 2011


Tarian waktu

Tiada hentinya
Jemari menari-nari
Mencari huruf-huruf semu
Bagaimana menndapatkanya
Kemana merangkainya
Kebodohan berfikir
Dan tetap berfikir
Mata kedua melirik jam dinding
Tak pernah putus asa
Mencari angka tigabelasnya
Akupun larut dalam semangatnya
Jemari larut dalam lelah
Tapi otak terus berfikir
Kuhisab dalam-dalam
Kenikmatan sebatang rokok
Memandang langit malam
Oh..... indahnya malam
Betapa konyolnya diriku..........

Maret 2011


Kaffah

Di ujung jari
Lekuk tekuk lengan
Keriput bibir atas terkering angin
Menyebut Sang Kekasih
Betapa hati MenginginkanMu
Tapi tangan menolak
Senantiasa Lidah memohon ampunanMu
Namun bibir menutup rapat-rapat
Kelopak mata berharap melihatMu
Begitupun panjang rambut terurai sombong menghalangi
Sepertinya muka tak pernah mau berpaling dariMu
Namun langkah kaki selalu berpihak pada tangan
Dan tangan terlalu menurut pada kepala berotak  tak berakal itu..


Semarang, 2011




Sejauh Kebenaran

Berjalan
Sejauh yang kulihat
Sejauh yang kuanggap itu benar
Satu langkah
Untuk menuju yang kupandang
Akupun mulai curiga
Kepada diriku
Untuk apakah aku berjalan
Apakah jalanku ini benar? 


Semarang, 2011





Rapuh

Senyuman yang selalu mekar miliknya mulai mengkerut kembali mengikis kepalsuan
Matanya tajam semakin dingin
Dengan kebekuan air mata darahnya yang menyimpan kegelisahan dalam gua-gua sunyi
Debu-debu terbaring di permukaan wajahnya
Senyap mulai merayap di sudut-sudut mata, hidung, telinga, bibir, sampai kerat-kerat lehernya
Dia tak bisa lagi melihat birunya langit masa depanya
Sebab matanya tertutup debu hitam masa lalunya
Ketika waktu memaksa dirinya melawan arus
Sampai menghancurkan kerasnya batu-batu kepenatan
Tidak pernah ada kalimat panjang yang terlontar dari mulutnya
Teriakan-teriakan itu hanya untuk menggali gumpalan-gumpalan semangat dalam dirinya
Dia kehilangan dunia yang indah miliknya
Ketika gumpalan semangat itu tergali tetapi banyak orang lain yang menyadarkan
Menguburnya lagi dan terus mengubur
Tidak ada apa-apa yang penting baginya kecuali menunggu lama dan diam
Terbang melalui hari demi hari diatas kebusukan angin tua yang rapuh

Kediri, 2011 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar